Kehidupan seseorang seringkali membutuhkan sebuah sensasi. Beberapa hal yang mungkin sangat sulit untuk didapatkan atau dinikmati kalangan pada umumnya, merupakan hal yang biasa serta dengan mudahnya didapatkan oleh kalangan tertentu. Sebut saja Orang Kaya, hanya dengan merogoh beberapa kocek berbagai fasilitaspun akan tersedia. Beberapa kocek yang tersedia seakan tak ada habisnya. Kalau hari ini keluar beberapa rupiah, hari itu juga sudah masuk berupiah-rupiah, belum lagi hari-hari sebelumnya ataupun dikemudian harinya. Singkat kata singkat cerita, orang yang seperti “pepatah” menyebutkan: “besar tiang daripada pasak” atau pemasukan lebih besar daripada pengeluarannya, pada beberapa hal dirasa baginya hidup ini membosankan. Petualangan yang dialami oleh orang pada umumnya demi memperoleh beberapa suap nasi ataupun kehidupan layak, rasanya kurang dirasa oleh orang-orang berkantong tebal. Maka dari itu, kebutuhan untuk “merasakan sensasi kehidupan” bagi sedikit orang disalurkannya melalui beberapa aktivitas yang menantang. Pernah suatu ketika saya mendengar informasi mengenai alasan turis berwisata di Indonesia, salah satunya karena sebagian dari mereka merupakan “pensiunan” di daerah asal yang kemudian ingin menikmati perantauan menikmati wisata alam. Pada turis luar negeri yang sudah cukup berusia, mereka telah bekerja cukup lama dan hampir pasti kebutuhan untuk sandaran hidupnya sehari-hari sudah tercukupi. Naluri untuk berpetualang merasakan sensasi lain dari kehidupan ini, mereka turuti dengan sepenuh hati. Jumat, 28 November 2008
“Paralayang”, olahraga yang menantang para petualang
Kehidupan seseorang seringkali membutuhkan sebuah sensasi. Beberapa hal yang mungkin sangat sulit untuk didapatkan atau dinikmati kalangan pada umumnya, merupakan hal yang biasa serta dengan mudahnya didapatkan oleh kalangan tertentu. Sebut saja Orang Kaya, hanya dengan merogoh beberapa kocek berbagai fasilitaspun akan tersedia. Beberapa kocek yang tersedia seakan tak ada habisnya. Kalau hari ini keluar beberapa rupiah, hari itu juga sudah masuk berupiah-rupiah, belum lagi hari-hari sebelumnya ataupun dikemudian harinya. Singkat kata singkat cerita, orang yang seperti “pepatah” menyebutkan: “besar tiang daripada pasak” atau pemasukan lebih besar daripada pengeluarannya, pada beberapa hal dirasa baginya hidup ini membosankan. Petualangan yang dialami oleh orang pada umumnya demi memperoleh beberapa suap nasi ataupun kehidupan layak, rasanya kurang dirasa oleh orang-orang berkantong tebal. Maka dari itu, kebutuhan untuk “merasakan sensasi kehidupan” bagi sedikit orang disalurkannya melalui beberapa aktivitas yang menantang. Pernah suatu ketika saya mendengar informasi mengenai alasan turis berwisata di Indonesia, salah satunya karena sebagian dari mereka merupakan “pensiunan” di daerah asal yang kemudian ingin menikmati perantauan menikmati wisata alam. Pada turis luar negeri yang sudah cukup berusia, mereka telah bekerja cukup lama dan hampir pasti kebutuhan untuk sandaran hidupnya sehari-hari sudah tercukupi. Naluri untuk berpetualang merasakan sensasi lain dari kehidupan ini, mereka turuti dengan sepenuh hati. Selasa, 25 November 2008
“JEEPNEY”, One of Public Transportation in Philippine
Seringkali kami harus pergi ke kampus dengan memanfaatkan transportasi umum, meskipun pada awalnya telah disediakan mobil van yang sanggup antar jemput ke kampus sewaktu-waktu. Dengan biaya yang agak murah tapi “kurang praktis” transportasi umum kami jadikan teman setia untuk mengantar perjalanan ke kampus tiap harinya. Salah satunya yaitu “Jeepney”, alat transportasi darat yang hampir mirip oplet/bemo dengan body kendaraan yang lebih panjang. Untuk menuju kampus kami harus 2 kali menaiki Jeepney atau lebih dikenal dengan istilah “oper”. Jeepney bisa memuat sekitar 15 penumpang sekali jalan dengan biaya sebesar 7 peso/orang atau sekitar Rp 1.400,-. Jalanan Ibu kota Filipina merupakan pemandangan yang kita saksikan tatkala menaiki Jeepney, kehidupan sosial masyarakat serta perekonomiannya secara umum terlukis dengan jelas. Adakalanya kita menyaksikan sebuah gedung-gedung megah yang berderetan, toko-toko di pinggir jalan yang menjual aneka kebutuhan pokok serta pemikiman-pemukiman kumuhpun tak lepas dari pandangan mata kita. Nampaknya, kesenjangan sosial dan ekonomi merupakan problema di berbagai Ibu Kota Negara.
Keunikan ketika manaiki sebuah Jeepney adalah pada sistem pembayarannya. Selang waktu setelah naik dan duduk di dalam kendaraan, ongkos transportasi harus segera kita bayarkan ke pengemudi di depan dengan cara menyalurkan ke penumpang sebelah (kiri/kanan) yang berada agak depan, kemudian disalurkan ke depan lagi hingga sampai pada pengemudi sopir. Suatu kejadian, ada salah seorang diantara kami yang lupa membayar ongkos transport hingga pengemudi menghitung jumlah uang yang diterimanya dibanding dengan penumpang, sampai akhirnya pengemudi mengeluarkan beberapa perkataan dalam bahasa tagalong yang notabene hanya ada kami yang berasal dari Indonesia. Kamipun kebingungan dengan apa yang dimaksudkan pengemudi, tak selang kemudian, eh ternyata dia menagih diantara kami yang belum membayar ongkosnya. Uang segera dibayarkan dan ketika mau turun kami katakan para poo (kiri pak). Untuk menghindari agar pengemudi jeepney tidak langsung tancap gas, bilang saja “sandalilang”. Eh… bukan berarti kita kehilangan sandal/sepatu, tapi permintaan untuk menunggu/tunggu sebentar. Sandalilang = wait a moment.Senin, 17 November 2008
Temukan Canopy Bridge di Bukit Bangkirai !!! (salah satu objek wisata Kutai Kartanegara)
Pada sekitar pertengahan Mei 2008, tepatnya setelah aku menjalani Ujian Akhir Semester tiba-tiba tawaran yang mengejutkan datang dari Ibuku. Meskipun pada saat itu tugas Skripsi belum tuntas, secara spontan demi memperoleh kesempatan untuk mengunjungi pulau Borneo kuterima begitu saja. Tujuan utama keberangkatanku ke Kalimantan adalah mengantar seorang yang akan bekerja di sana. Penentuan keberangkatan hingga pemesanan tiket saya rundingkan dengan Ibu di rumah dan Kakak yang nota bene sudah ada di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Singkat cerita, keberangkatan saya dengan seorang yang saya antarkan berlangsung pada Jum’at siang dari Bandara Abdurahman Saleh Malang hingga sampai di Bandara Sepinggan Balikpapan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan udara. Banyak hal yang saya pelajari di sana, mulai dari aktivitas keseharian Kakak yang bekerja dan kuliah, hingga petualanganku bersama saudara sebaya dan teman-temannya. Kenangan yang masih tersimpan di benak saya adalah perjalanan menuju Objek wisata yang kami lakukan dengan mengendarai sepeda motor berdurasi hingga sekitar 3 jam serta beberapa jalan terjal beserta pemandangan alam yang masih alami hingga akhirnya tiba pada sebuah bukit bernama bangkirai yang konon sudah memasuki kawasan Kutai Kartanegara. Di dalam hutan belantara di Bukit Bangkirai itu secara tidak sengaja kami temui sebuah Jembatan Kanopi, hingga kami mencobanya dan tentunya tidak lupa mengabadikan momen selama berada di atas jembatan
Kawasan wisata alam Bukit Bangkirai yang dikelola PT. Inhutani I Unit I Balikpapan, bisa dijadikan alternatif liburan yang berbeda dari tempat wisata lainnya. Terletak di Kecamatan Samboja, Kab. Kutai Kertanegara, Kawasan Wisata Bukit Bangkirai menawarkan pesona hutan hujan tropis yang masih alami. Pengunjung bahkan dapat mendengarkan kicauan burung dan suara-suara satwa hutan lainnya. Para pengunjung juga dapat mencoba tantangan untuk meniti canopy bridge atau jembatan tajuk sepanjang 64 m yang digantung menghubungkan 5 pohon Bangkirai di ketinggian 30 m. Untuk mencapai canopy bridge, terdapat dua menara dari kayu ulin yang didirikan mengelilingi batang pohon Bangkirai. Dari atas canopy bridge, wisatawan dapat dengan leluasa melihat panorama hutan hujan tropis (tropical rain forest) Bukit Bangkirai serta mengamati dari dekat formasi tajuk tegakan "Dipteropcarpaceae" yang menjadi ciri khas hutan hujan tropis. Selengkapnya.......

RSS Feed (xml)